Dia menambahkan, Jepang mengkombinasikan sepak bola dengan budaya mereka. Budaya yang tumbuh di negara dan masyarakatnya diterapkan pada sepak bolanya. Itu berlaku pada pemainnya, bahkan hingga pada para suporternya.
Budaya Jepang diterapkan para pemainnya dengan bermain tim, bukan individual. Sementara para suporternya telah mengejutkan publik global melalui perilaku terhormat mereka dengan membersihkan tempat mereka menonton sepak bola.
“Mereka sangat serius. Kalau kita lihat sepak bola Jepang itu, benar–benar culture-nya mereka. Cara mereka bermain, itu culture mereka. Gak ada individual. Apalagi kalau kita lihat bagaimana para suporter Jepang kasih lihat culture lagi. Bersih – bersih setalah nonton piala dunia. Loker pemain juga bersih. Nah itu kan culture yang disampaikan,” ujar Erick.
Menurut Erick, Indonesia sangat memiliki peluang untuk memajukan sepak bolanya, karena Indonesia juga negara kaya yang menjunjung tinggi kebudayaannya. Namun, Indonesia belum memiliki manajemen persepakbolaan yang solid dan berkelanjutan.
Dia menegaskan, persepakbolaan Indonesia tidak akan bisa maju jika tidak memiliki sistem dan kepemimpinan. Pengelolaan sepak bola yang memiliki kepemimpinan saja, namun tidak memiliki sistem, hanya akan membuat pengelolaan yang tidak memiliki keberlanjutan.
Sebaliknya, pengelolaan hanya hanya memiliki sistem atau SOP, namun tidak memiliki kepemimpinan, maka hanya akan membuat pengembangan persepakbolaan berada ditataran teori.
“Tidak mungkin perubahan itu terjadi tanpa ada SOP, sistem, dan leadership. Musti ada. Kalau hanya leadership ‘Wah (pemimpin) ini bagus nih’. Nanti (pada saat) dia diganti, dan gak ada sistemnya, rusak lagi. Atau ada sistem, tetapi gak ada pemimpinnya, percuma, bakal jadi makalah. Itu Indonesia paling seneng bikin makalah tebal–tebal,” pungkas Erick.(**)








